DESA DINAMIS: Strategi Inovatif Untuk Membangun Komunitas yang  Berkelanjutan

DESA DINAMIS: Strategi Inovatif Untuk Membangun Komunitas yang Berkelanjutan

Admin LPPM_2 Maret 1, 2024 Kegiatan LPPM, Kegiatan UNISBA, Pusat Pengembangan Wilayah dan Teknologi Lingkungan Hidup, Webinar

LPPM UNISBA – Kang igun merupakan salah satu akademisi di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Unisba sekaligus menjadi penggerak komunitas yang berbasis kepada pengabdian masyarakat. Tahun 2006 hingga 2015 menjadi awal mula kang igun dalam mendampingi dan merintis 1 komunitas bernama Wallagri, serta terdapat 1 RW yang dikembangkannya. Hingga saat ini (sudah 18 tahun) fokus dibidang pengabdian masyarakat, kang igun memiliki 47 komunitas yang tersebar di 3 Kabupaten kota di Bandung Timur dengan beragam karya yang telah dihasilkannya. Pada tahun 2023, omunitas wallagri yang dirintis oleh kang igun (wallagri) menjadi finalis lomba SDGS Desa yang diselenggarakan di bappenas.

Menurut kang igun, terdapat beberapa point penting yang menjadi perhatian dalam pengembangan komunitas. Diantaranya adalah:

  1. Prinsip tidak ada yang tertinggal, ini mengandung arti bahwa setiap komunitas yang dilibatkan harus merasa menjadi “pemimpin” bagi dirinya sendiri dan mengedepankan prinsip kesetaraan.
  2. Prinsip integrasi sistem, Intinya saling berkolaborasi dan berintegrasi antar sistem (pentahelix) seperti akademisi, pemerintah, komunitas, dunia usaha dan lain sebagainya.
  3. Prinsip Visi dan Tata Nilai Komunitas”, artinya bahwa kunci integrasi merupakan visi dan tata nilai yang dibangun didalam internal komunitas itu sendiri.

Pada konteks materi yang disampaikan, Kang igun memaparkan bahwa penilaian kunci sukses untuk mengikuti lomba di bappenas diantarnya:

  1. Memiliki Novelty
    • Kebaharuan Gagasan
      • Gagasan preventif, Best Pactice sebagai model inovatif bagian dari skema mengantisipasi kesenjangan pertumbuhan wilayah di hinteland rencana kota internasional teknopolis Gede Bade dan antispasi kerusakan KBU Timur Kota Bandung.
      • Gagasan Integratif, Best practice terintegrasi dalam skema perencanaan RDTR Tematik (terutama rencana jalur & paket wisata alam & budaya Kawasan Sunda Polis)
      • Mengangkat Konsep Lokal, Mengembangkan konsep lokal “buruan/ halaman” produktif dalam skala unit lingkungan kampung hingga skala kota dan berbagai lapisan sosial.
    • Kebaharuan Metodologi
      • Metode 3R Gotong Royong Khas Sunda (3R = Ririungan, Rereongan & Reureujeungan).
      • Mix Methode Multi Dimensi yaitu pedekatan kearifan lokal, modern dan kebijakan normative secara terpadu
      • Proses Kerjasama Penta Helix yang utuh dan kompleks : Perencanaan – Pembangunan – Pemberdayaan
    • Kebaharuan Produk
      • Produk Buruan Sae bukan sekedar konsumsi tapi mengangkat WBTB makanan tradisional, paket wisata edukasi, nama bus wisata dan prestasi.
      • Program Sapoe Jadi Patani (Memanfaatkan sisa lahan pertanian di kota jadi wahana pendidikan karakter siswa lokal dan internasional).
      • Pusat Unit Lingkungan : Taman Unit Lingkungan yang mengedukasi 8 Elemen green city
      • Pusat Unit lingkungan : Rumah Warga sebagai Co-Working Space 17 unit / kelompok pemberdayaan berbagai usia jadi produktif
  1. Menguatkan Best Practice

Best practice bukan sekedar kampung berkebun biasa tapi kampung inovatif yang mengembangan 4 pilar sdgs sekaligus.

    • Pilar Pembangunan Nasional
      • Melibatkan warga secara aktif dalam proses perencanaan, pembangunan dan pemberdayaan
      • Meningkatkan daya kohesi sosial pada ruang bersama “berkonsep buruan SAE” yang menjamin terwujudnya keberlanjutan sosial.
      • Membentuk 17 kelompok pemberdayaan tematik
    • Pilar Ekonomi
      • Memberdayakan ruang-ruang yang ada, buruan / halaman rumah, sisa sawah perkotaan menjadi sumber ekonomi produktif. dan terwujudnya pertanian perkotaan yang mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
    • Pilar Pembangunan Lingkungan
      • Terwujudnya pertanian perkotaan yang mendukung ketersediaan RTH Kota.
      • Mengubah lingkungan fisik menjadi lebih terencana, asri dan memiliki kelengkapan sarana prasana unit lingkungan mandiri.
    • Pilar Pembangunan Hukum dan Tata Kelola
      • Mendorong kelembagaan komunitas lokal bertransformasi kearah berwawasan global dengan kemitraan jaringan penta helix yang lebih luas.

Komentar

Deprecated: Berkas Tema tanpa comments.php tidak digunakan lagi sejak versi 3.0.0 dan tidak tersedia penggantinya. Harap sertakan templat comments.php dalam tema Anda. in /var/www/html/wp-includes/functions.php on line 5581

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.